Senin, 16 Agustus 2010

Kita pernah bertemu ketika mengoyak adalah satu-satunya keinginanmu.

“Biarkan saja, nanti akan ada petugas yang mengurusnya” seru sang kapten saat seorang anak buahnya hendak menarikku. Ya, kini di rumah kami banyak sekali polisi. Ada beberapa yang memeriksa lemari, mencari sidik jari, dan mengerumuni jasad Tuan Susilo, majikanku.

Aku sudah lama 10 tahun tinggal bersama tuan dan nyonya Susilo. Nyonya Susilo lah yang paling akrab denganku. Sambil mengajakku memasak, ia sering bercerita. Tentang jaman ia masih gadis, tentang harga-harga sembako, tentang ia dan suaminya yang kesulitan punya momongan, juga tentang para tetangga yang selalu menggosipkannya.

Tapi setelah hari ini kuyakin Nyonya Susilo takkan lagi bercerita ataupun mengajakku memasak lagi. Semua bermula dari kegaduhan di ruang tamu tadi pagi. “Trus apa salahnya kalo aku minta kawin lagi?” teriak Tuan Susilo. “Aku pengen punya darah daging sendiri, nggak mau aku main pungut-pungut kayak kakakmu si Lastri itu, emoh aku” jelas Tuan Susilo menaikkan nadanya.

“Ah sudahlah, aku sudah memutuskan, sabtu besok aku mau nembung si Ika, perawan anaknya si Marjo” tegas Tuan Susilo. “Aku sudah nggak bisa ngarepke koe sing mandul” jelasnya lagi.

Aku diam tak bergeming di sudut dapur saat mendengar kata-kata itu. Aku juga tak berani melirik Nyonya Susilo yang sedang memasak air di belakangku. Seketika aku terkaget, tangan Nyonya Susilo menarikku keras. Ia memegangku erat sambil memandangku tajam sesaat. Aku tak berani melawan.

Nyonya Susilo masuk ruang tamu, melangkah cepat menuju suaminya. “Mau apa kamu? Marah? Ngambek?” sergah suaminya. Tanpa ba-bi-bu, Nyonya Susilo mendorongku keras ke perut suaminya. Aku menangis sejadi-jadinya. Darah hangat langsung membasahiku, meluap hebat hingga lantai marmer rumah langsung bersimbah merah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar