Senin, 06 September 2010

Kita pernah bertemu, sebelum tongkat besimu terayun pertama kali

Keringat mengucur luar biasa deras saat mereka membuka ikatanku dan menurunkanku di padang rumput itu. Samar-samar aku bisa tahu dua bajingan itu. Satu memakai polo shirt, topi dan kacamata RayBan. Seorang lagi lebih muda, bersetelan Armani dan jam tangan emas. Ia menyandang tas besar... ya Tuhan sepertinya itu semua adalah pemukul.

“Katakan padaku, kenapa direksimu belum bisa menerima penawaranku” ujar si pemakai topi sambil mengayunkan tongkatnya. “Ughhhh” ia memukulku cukup jauh hingga tersungkur mengenai pohon. Tak ada darah sama sekali tapi sepertinya semua tulangku remuk.

Belum sempat aku menenangkan diri, langkah kaki mereka sudah cukup dekat mengarah padaku. “Ada dua cara yang bisa kita ambil, baik-baik atau lewat kekerasan.” Sahut si Topi cukup sinis. “Sabar pak, direksi sepertinya masih mempertimbangkan” si Rapi mencoba menenangkannya.

Si Topi kini mencengkramku. Ia memastikan aku diam di posisiku saat ini. Matanya menatapku tajam sambil sesekali menatap ke padang rumput yang luas itu. “Kuberi tahu satu hal, beranilah untuk mengambil keputusan dan terima apapun resikonya...” kalimat si Topi tiba-tiba berhenti seketika ia mengayunkan pemukulnya keras mengenaiku.

Mataku masih terpejam menahan sakit, sepertinya aku terpukul cukup jauh hingga terperosok ke sebuah lubang kecil. Di atas aku mendengar si Topi terkekeh bicara “dan jika kau cukup beruntung... Voila, hole-in-one!“

Senin, 16 Agustus 2010

Kita pernah bertemu ketika mengoyak adalah satu-satunya keinginanmu.

“Biarkan saja, nanti akan ada petugas yang mengurusnya” seru sang kapten saat seorang anak buahnya hendak menarikku. Ya, kini di rumah kami banyak sekali polisi. Ada beberapa yang memeriksa lemari, mencari sidik jari, dan mengerumuni jasad Tuan Susilo, majikanku.

Aku sudah lama 10 tahun tinggal bersama tuan dan nyonya Susilo. Nyonya Susilo lah yang paling akrab denganku. Sambil mengajakku memasak, ia sering bercerita. Tentang jaman ia masih gadis, tentang harga-harga sembako, tentang ia dan suaminya yang kesulitan punya momongan, juga tentang para tetangga yang selalu menggosipkannya.

Tapi setelah hari ini kuyakin Nyonya Susilo takkan lagi bercerita ataupun mengajakku memasak lagi. Semua bermula dari kegaduhan di ruang tamu tadi pagi. “Trus apa salahnya kalo aku minta kawin lagi?” teriak Tuan Susilo. “Aku pengen punya darah daging sendiri, nggak mau aku main pungut-pungut kayak kakakmu si Lastri itu, emoh aku” jelas Tuan Susilo menaikkan nadanya.

“Ah sudahlah, aku sudah memutuskan, sabtu besok aku mau nembung si Ika, perawan anaknya si Marjo” tegas Tuan Susilo. “Aku sudah nggak bisa ngarepke koe sing mandul” jelasnya lagi.

Aku diam tak bergeming di sudut dapur saat mendengar kata-kata itu. Aku juga tak berani melirik Nyonya Susilo yang sedang memasak air di belakangku. Seketika aku terkaget, tangan Nyonya Susilo menarikku keras. Ia memegangku erat sambil memandangku tajam sesaat. Aku tak berani melawan.

Nyonya Susilo masuk ruang tamu, melangkah cepat menuju suaminya. “Mau apa kamu? Marah? Ngambek?” sergah suaminya. Tanpa ba-bi-bu, Nyonya Susilo mendorongku keras ke perut suaminya. Aku menangis sejadi-jadinya. Darah hangat langsung membasahiku, meluap hebat hingga lantai marmer rumah langsung bersimbah merah.

Kamis, 12 Agustus 2010

Kita pernah bertemu, saat kamu membelai kepalanya.

“Dia mengajakku sarapan di hotel bintang lima. Mmmm pasti dia akan mengajakku seharian hari ini” sahutnya sambil memoleskan bedak di pipinya tanpa peduli apakah aku akan menanggapi atau tidak.

Kini dia merapikan bulu matanya. Menjepitnya agar terlihat lentik lalu menyapukan kuas ungu di atasnya. “Dia nggak tua-tua amat sih, dia masih hebat kok di ranjang. Dan dia tahu benar di bagian mana harus menyentuhku” ujarnya sambil mengoleskan gincu ungu itu ke bibirnya.

Sebenarnya aku sudah bosan dengan wanita ini. Setiap hari harus bertemu dengannya dan mendengar apapun kecerewetannya. Tapi yang paling menyebalkan adalah aku yang harus diam dan menjalankan apa yang menjadi tugasku, mempercantik dirinya.

“Ah sudah cantik, pasti hari ini ia akan memujiku habis-habisan” sahutnya sambil mengangkatku dan menyikatku perlahan. Memastikan aku tampak halus dan lebat di kepalanya. “Sayang, ia hanya mau dengan yang berambut panjang” ucapnya sambil meninggalkan meja rias.

Rabu, 11 Agustus 2010

Kita pernah bertemu, sedetik sebelum kamu membakarku.

Ruangan itu tidak begitu luas tapi tidak juga sempit. Cahaya yang masuk dari jendela di sisi kananlah yang membuat ruangan itu terkesan lapang.

Di tembok seberang jendela, tergantung lukisan besar. Abstrak, dua garis merah dan jingga saling melingkari. Dari nama pelukisnya, aku tahu ia cukup terkenal. Effendi, ya itu namanya. Kebetulan aku sekampung halaman dengannya meski aku tak pernah bertemu apalagi berkenalan. Kuyakin, perjalanan kami berbeda meski sama-sama dari Temanggung.

Aku baru beberapa hari ini sampai di Jakarta. “Pisahkan dia dari yang lain. Yang ini istimewa. Harganya beda!” kudengar kalimat itu dari juraganku sebelum ia mengirimku ke sini. Sama sekali aku tidak ingat seperti apa perjalananku. Saat aku bangun 5 menit yang lalu, aku sudah ada di ruangan ini.

“Ya pasti, yang ini saya jamin masih fresh! Pasti bapak makin berselera” Sambil tertawa terkekeh, ia duduk tak jauh dariku. Dari kerutan wajahnya, kuyakin usianya diatas 50 tahun. Memakai setelan jas abu-abu, bersepatu pantofel mengkilap, dan jam tangannya... ah pastilah itu seharga satu hektar kebun di kampungku.

Kini ia menutup teleponnya, memandangku tajam, dan tanpa sepatah kata terucap... ia menarikku, menjejalkanku dalam pipa coklatnya, lantas menyalakan koreknya. Saat ia menghembuskan asap putih ke udara, aku tahu ini akhirku.