Senin, 06 September 2010

Kita pernah bertemu, sebelum tongkat besimu terayun pertama kali

Keringat mengucur luar biasa deras saat mereka membuka ikatanku dan menurunkanku di padang rumput itu. Samar-samar aku bisa tahu dua bajingan itu. Satu memakai polo shirt, topi dan kacamata RayBan. Seorang lagi lebih muda, bersetelan Armani dan jam tangan emas. Ia menyandang tas besar... ya Tuhan sepertinya itu semua adalah pemukul.

“Katakan padaku, kenapa direksimu belum bisa menerima penawaranku” ujar si pemakai topi sambil mengayunkan tongkatnya. “Ughhhh” ia memukulku cukup jauh hingga tersungkur mengenai pohon. Tak ada darah sama sekali tapi sepertinya semua tulangku remuk.

Belum sempat aku menenangkan diri, langkah kaki mereka sudah cukup dekat mengarah padaku. “Ada dua cara yang bisa kita ambil, baik-baik atau lewat kekerasan.” Sahut si Topi cukup sinis. “Sabar pak, direksi sepertinya masih mempertimbangkan” si Rapi mencoba menenangkannya.

Si Topi kini mencengkramku. Ia memastikan aku diam di posisiku saat ini. Matanya menatapku tajam sambil sesekali menatap ke padang rumput yang luas itu. “Kuberi tahu satu hal, beranilah untuk mengambil keputusan dan terima apapun resikonya...” kalimat si Topi tiba-tiba berhenti seketika ia mengayunkan pemukulnya keras mengenaiku.

Mataku masih terpejam menahan sakit, sepertinya aku terpukul cukup jauh hingga terperosok ke sebuah lubang kecil. Di atas aku mendengar si Topi terkekeh bicara “dan jika kau cukup beruntung... Voila, hole-in-one!“

Tidak ada komentar:

Posting Komentar