Rabu, 11 Agustus 2010

Kita pernah bertemu, sedetik sebelum kamu membakarku.

Ruangan itu tidak begitu luas tapi tidak juga sempit. Cahaya yang masuk dari jendela di sisi kananlah yang membuat ruangan itu terkesan lapang.

Di tembok seberang jendela, tergantung lukisan besar. Abstrak, dua garis merah dan jingga saling melingkari. Dari nama pelukisnya, aku tahu ia cukup terkenal. Effendi, ya itu namanya. Kebetulan aku sekampung halaman dengannya meski aku tak pernah bertemu apalagi berkenalan. Kuyakin, perjalanan kami berbeda meski sama-sama dari Temanggung.

Aku baru beberapa hari ini sampai di Jakarta. “Pisahkan dia dari yang lain. Yang ini istimewa. Harganya beda!” kudengar kalimat itu dari juraganku sebelum ia mengirimku ke sini. Sama sekali aku tidak ingat seperti apa perjalananku. Saat aku bangun 5 menit yang lalu, aku sudah ada di ruangan ini.

“Ya pasti, yang ini saya jamin masih fresh! Pasti bapak makin berselera” Sambil tertawa terkekeh, ia duduk tak jauh dariku. Dari kerutan wajahnya, kuyakin usianya diatas 50 tahun. Memakai setelan jas abu-abu, bersepatu pantofel mengkilap, dan jam tangannya... ah pastilah itu seharga satu hektar kebun di kampungku.

Kini ia menutup teleponnya, memandangku tajam, dan tanpa sepatah kata terucap... ia menarikku, menjejalkanku dalam pipa coklatnya, lantas menyalakan koreknya. Saat ia menghembuskan asap putih ke udara, aku tahu ini akhirku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar